Minggu, 02 September 2012

Idealisme Party

saya memang bukan sosok yang terlalu baik. seperti yang lainnya, saya menggenggam pundi keegoisan dan kemanusiawian dalam diri saya. menjadikan orang-orang yang optimis dan berambisi terhadap hal-hal baik di dunia ini sering hal nya membuat saya tersenyum kecut. yang lalu saya iringi dengan memutar mata seolah jenuh mendengar idealisme semacam itu.

'seringkali manusia menganggap bodoh orang yang baik, itulah kenapa saya menyebut jahat itu manusiawi' itu yang sering saya ucapkan. saya tidak ayal akan tergelitik ketika asyik membaca timeline twitter saya, kemudian menemukan salah seorang teman saya dengan tweet nya yang begitu bersahaja. selalu saja ada orang yang protes, selalu ada yang mengolok.


'apa yang kalian olok-olokkan?'


sebagai sesama makhluk berotak, saya paham bagaimana rasanya mentertawakan. seperti saat berada diatas, kemudian hanya saya dan beberapa orang teman saya yang tahu tentang kesalahan dari orang-orang yang kami perolok. mengetahui akibat dari kesalahannya, mengetahui kelemahan dari kata-katanya, mengetahui apa yang yang membuatnya seperti itu, mengetahui segala hal. kurang lebih terasa seperti itu.

mungkin saya juga seperti itu beberapa tahun lalu, tidak lebih. sampai kemudian saya menyadari bahwa terkadang orang-orang yang kita tertawakan bahkan lebih tahu akan kesalahannya, mereka mengulang kesalahan tersebut untuk kemudian mendapat respon dari orang-orang sok sempurna seperti saya dahulu. lalu orang tersebut balik memperolok. ah menyebalkan.
seperti seorang guru yang bertanya kepada muridnya, lalu sang murid merespon dengan jawaban yang murid itu anggap benar, sang guru mengiyakan, padahal ia tahu jawaban itu tidak lebih dari lontaran dari asumsi semu anak-anak baru belajar.

saya hidup dengan prinsip yang membetulkan anggapan bahwa setiap manusia itu pintar. setiap manusia tahu akan kesalahan yang dia lakukan. seorang pengguna narkoba tahu apa yang ia lakukan salah, seorang pendusta tahu ia sedang berbohong. seorang manusia tahu ketika ia sedang dipermainkan.


'beberapa orang cenderung akan langsung marah ketika ia tahu ia sedang dipermainkan. beberapa yang lain cenderung diam, hanya untuk mengetahui sejauh mana ia bisa dipermainkan'


tidak ada orang yang tidak tahu jika ia diolok-olok. toh pada akhirnya dia hanya akan tersenyum kecut di dalam hati, menyesalkan bagaimana bisa ada orang yang sebodoh itu.


ah bukankah manusia hidup dalam ke-sok-tahu-an?

0 komentar:

Posting Komentar

 
;