Minggu, 09 September 2012

To Remembering Our Fate

Cliff
Aku Higuel Pumcliff, seorang anak yang terlahir di dalam sebuah keluarga yang keras dan disiplin. Ajaran seorang tentara yang melekat pada sosok ayahku, membuat aku tumbuh dalam wujud yang dingin dan tidak sensitif. membuat aku terus-terusan menahan asa dan perasaan. 
bahkan disaat umur ku belum menginjak 2 tahun, aku dipaksa berpisah dengan masa kanak-kanakku. aku diajari cara berjalan dan berlari terlalu dini.

'lagipula kamu mau main sama siapa? kamu tidak punya teman' begitu Ayah mendidikku. sampai ketika saat itu datang...


Anna
Ranum nya pemandangan di desa kecil kami menyambut hari kelahiranku. Anna Liqua, Anna. begitu aku dipanggil. seorang gadis yang lahir dan tumbuh di sebuah keluarga yang sederhana dan bersahaja. Ayah ku adalah seorang  buruh kecil di sebuah pabrik yang mengurusi pangan di desa kami, sementara Ibu adalah wanita lembut yang senantiasa mengurus rumah.

keluargaku hidup bersebelahan dengan keluarga lain yang menurut ku mempunyai watak yang sangat berbanding terbalik. Ayah dan Ibu ku adalah orang yang sangat lunak, sementara Paman Ton adalah pensiunan militer yang sangat keras. 
Orangtua ku seringkali memuja cara Paman Ton dalam mengurusi keluarga dan sosial nya. Keras, namun tetap ramah pada semua orang.
Pun Paman Ton diam-diam juga mengagumi keluarga kami, sederhana tetapi penuh dengan tawa. wajar jika keluarga kami sangat dekat dengan keluarga Paman Ton.

ah dan mengejutkan mengetahui ternyata Paman Ton mempunyai seorang anak lelaki yang umur nya lebih tua 1 tahun dariku, aku biasa memanggilnya... Cliff







Cliff
Anna kecil menjadi satu-satunya teman bermain ku. Tidak seperti anak-anak lainnya, Anna seperti mendapat perlakuan yang spesial dari ayah. biasanya ayah akan marah jika ada anak lain mengajakku untuk sekedar bermain bola, namun beda perlakuan terhadap Anna.
'mungkin karena kedekatan orantuaku dan orangtua Anna' begitu pikirku.

menginjak umur 6 tahun, hubunganku dengan Anna bahkan lebih dekat dari sekedar teman biasa. kami seperti kakak-adik yang saling menyayangi. 
Sebenarnya, ada hal yang lain yang seharusnya membuat aku dan Anna menjadi tidak cocok. Anna berwatak sangat lembut dan perasa, aku dingin dan keras. namun perbedaan itu membuat kami selalu merasa membutuhkan.

aku... hanya benar-benar merasa nyaman jika di dekat Anna.

Anna
kebahagiaan seperti nya terus menerus menghampiriku. seorang sosok kakak laki-laki yang sering aku lihat di film-film kartun  benar-benar aku rasakan secara nyata. Cliff tidak pernah enggan menjagaku. aku ingat saat aku terjerembab di dalam sebuah kubangan lumpur di peternakan milik orang-orang desa. Cliff dengan sigap menolongku, membersihkan luka ku, mengendongku di punggung nya yang sangat nyaman, tidak lupa terus menerus membuat aku diam dari tangisanku. Aku juga ingat saat ia rela memberikan seluruh jatah makan siang nya disaat aku secara tidak sengaja menjatuhkan sandwich ikan milikku.



'Cliff, apa kau akan selalu bersama ku?' pertanyaan yang selalu aku tanyakan di saat kami beranjak pulang usai lelah bermain di padang rumput di belakang desa. Aku sangat hafal bagaimana ia menjawab. 'tentu saja' singkat, diiringi rona merah dari pipinya. sangat lucu, juga sangat menyejukkan.






Cliff
aku dan Anna tumbuh menjadi remaja yang luar biasa, setidaknya begitu menurut orangtua kami. kami berhasil lulus di sebuah Universitas yang bonafit di kota.
aku sebenarnya tidak terlalu menginginkan itu, tetapi Anna berhasil membuatku luluh. Ia berkata bahwa ia pasti akan sangat membutuhkanku di kota nanti. Tidak lain menjaganya.

Jauh dari Ayah tidak membuat aku lepas dari kekang kemiliterannya, tiap akhir pekan ia selalu datang mengawasi dan mengurus segala keperluan kami. Aku diperlakukan seperti seorang tawanan yang tidak dapat melakukan apapun. Anna yang mengerti seringkali menahan ku saat aku ingin berontak. tentu saja dengan caranya.
seperti disaat aku ingin bergabung dengan teman-temanku di sebuah club malam. berjoget bersama gadis-gadis seksi dan cantik pasti akan sangat menyenangkan pikirku. kemudian Anna mencegat dengan mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan ku malam ini, untuk memperbaiki penghangat ruangan yang rusak.
bukan sesuatu yang luar biasa memang, tetapi anehnya aku selalu saja luluh disaat Anna membutuhkan ku. aku seperti merasa hidupku mempunyai arti bagi orang lain, itu membuat ku bahagia.

Anna
sebuah surat pemberitahuan lulus memulai kisah remaja aku dan Cliff. membayangkan bagaimana kami akan pergi ke kota tentu nya membuat aku seperti melayang.
Jujur saja, aku seringkali mendambakan bagaimana rasanya hidup di kota. bunyi bising dari kendaraan, orang-orang yang tidak di kenal lalu lalang, kerlap-kerlip lampu di malam hari. Ayah sebenarnya pernah menawarkan ku untuk tinggal di kota bersama Bibi Terra. tentu saja aku menolaknya. aku benar-benar tidak bisa jauh dari sosok kakak lelaki ku, Cliff.

Terkadang aku merasa kasihan kepada Cliff. melihat bagaimana ia terpaksa mengubur semua impian dan 'kegilaan' remaja seumurannya untuk sekedar hang out, minum-minum di sebuah bar, bermain casino, dan hal-hal lain.
dia seperti di jerat sebuah rantai yang sangat besar. Aku sangat mengerti bagaimana perasaannya. Tetapi menyokong nya untuk melakukan semua kegiatan gila itu tentu saja bukan hal yang baik. aku ingin Cliff terbebas dari hal-hal buruk modernisasi. 
Aku ingin dia tetap menjadi Cliff yang aku kenal, namun juga bebas berekspresi dan bahagia. karenanya aku selalu mencari cara agar dia tetap tinggal dan tersenyum. seperti dengan terus memintanya untuk tetap di dekatku, kemudian membuatnya tertawa dengan cara ku sendiri.



Cliff
Baru kali ini aku benar-benar menentang keputusan Ibu dan Ayah. Aku menyayangi Anna seperti aku menyayangi adik ku sendiri. Karena memang satu-satunya gadis yang aku cintai dan ingin aku miliki adalah Luvia. Gadis yang aku kenal di sebuah club malam ketika aku berhasil mengendap-endap keluar apartment bersama teman-teman ku.
Aku begitu ingat, malam itu adalah puncak dari segala kelelahanku menghadapi kejamnya belenggu Ayah. Steve dan Tave memeberi ide agar aku bergabung dengan mereka untuk sedikit menikmati musik di salah satu diskotik di sekitar sini. Awalnya aku ragu, mengingat Anna pasti tidak akan suka aku melakukan hal ini. Namun bujukan dari dua teman sekampusku ini benar-benar membuatku tidak berdaya.
'Ayolah Cliff, satu kali saja. Aku janji tidak akan ada narkoba dan semacamnya'. Steve mencoba meyakiniku.

Kami sengaja menunggu kamar apartment Anna gelap. pukul 01.00 dini hari, aku berhasil menginjakkan kaki ku untuk pertamakalinya di depan sebuah tempat hiburan malam. Senyum ku mengembang membayangkan bagaimana aku akan meluapkan ekspresi ku yang terpendam selama ini.

Lelah bergoyang diiringi sebuah musik techno modern yang mengalun mengikuti lihai nya gerakan tangan Disc jockey, aku memilih untuk duduk sekedar melepas penat. Sambil sesekali meneguk secangkir minuman non-alkohol yang ku pesan dengan malu-malu kepada pelayan bar tadi.
Tidak lama seorang gadis cantik menghampiriku. Merebut minuman ku, kemudian sedikit menyicipinya.
'lucu sekali' ujarnya seraya duduk dengan jarak yang sangat dekat denganku. Gugup, aku sedikit memberi ruang antara pinggulku dan pinggulnya.
'aku tidak suka alkohol.. tidak suka mabuk' jelasku terbata. Ekor mataku mencari Steve dan Tave yang ternyata tengah sibuk dengan beberapa gadis seksi di ujung sana.

'lalu.. apa yang dilakukan oleh pria yang tidak suka mabuk dan alkohol ini di sebuah club malam?' tanya nya lagi sambil meniupkan asap rokoknya ke arah wajahku. Sedikit mengintimidasi.

'sekedar mencari kesenangan, mungkin.' Aku akan bergegas pergi sesaat sebelum tangannya telah terlebih dahulu menarik pergelangan tanganku.

'ngomong-ngomong, nama ku Luvia. siapa namamu?'

'Higuel Pumcliff. Cliff'

'oke Cliff, ikut aku dan akan aku tunjukan padamu kesenangan yang sebenarnya..'

khayalanku berlanjut pada hal yang terjadi setelah itu. Hari-hari dimana kedekatanku dengan Luvia mulai tidak terkendali. Kencan, sekedar makan malam, jalan-jalan. Aku sengaja menyembunyikan hal ini dari Anna. dia pasti akan sangat marah jika mengetahui aku tengah dekat dengan seorang gadis dari club malam.

'CLIFF!' teriakkan Ayah membuyarkan lamunanku.

'Kami sudah bicara, keluarga Anna pun sepertinya setuju. begitu pun dengan Anna. dia sendiri yang meminta mu untuk menikahinya.'

Anna
Sebenarnya sudah sejak lama aku menyembunyikan kisah cinta ku pada Cliff. Pria pemalu itu, namanya Hugo. Pria berkacamata dengan perawakan kurus yang seringkali aku temui di perpustakaan kampus.
Dia orang yang sedikit kikuk dan mudah panik. bagiku, hal itulah yang membuat dia menarik.
Aku dan Hugo sudah sangat dekat, makan siang di cafetaria, belajar bersama, membahas film-film sains yang ternyata juga ia sukai. Bahkan bisa dibilang kami telah seperti sepasang kekasih.

Aku sengaja tidak memberi tahu Cliff. Aku takut dia cemburu karena perannya untuk menjagaku digantikan oleh pria yang kelihatannya sangat lemah. Walaupun begitu, aku berjanji suatu saat nanti akan mempertemukan mereka berdua.
'Barangkali mereka bisa akrab'. bahagia rasanya membayangkan bagaimana kakak lelaki ku akan asyik mengobrol dengan kekasihku, membicarakan baseball atau modifikasi mobil. Sambil sesekali menyeruput kopi buatanku. Ah seringkali khayalan-khayalan seperti itu membuat aku tidak henti-hentinya tersenyum.

Sampai ketika Ayah dan Ibu tiba-tiba mendatangiku. membawa sebuah kabar yang entah bagaimana aku menyebutnya.
'Anna, dengar. sudah saatnya bagi gadis seumuranmu untuk menikah.' Ibu membuka perbincangan.

'menikah? tapi Bu, aku belum siap.. lagipula belum ada...'

'Calon?' potong Ayah. 'kami akan menikahkanmu dengan Cliff'

Perkataan Ayah membuat aku terperangah. Bagaimana mungkin aku menikah dengan seseorang yang sudah aku anggap sebagai kakak ku sendiri. Dan aku pun sangat yakin Cliff akan menolak rencana itu.

'Tidak Ayah! lagipula Cliff tidak akan mau.' aku bersikeras menolak. Di dalam hati, aku berkata bahwa aku sudah memiliki Hugo, dan saat aku siap nanti, aku ingin menikahinya, menikahi Hugo. dengan Cliff sebagai pendamping Pria nya.

Malam itu aku menghabiskan jam-jam dengan terus menangis dikamarku. Cliff yang aku kenal tidak akan mungkin mau menikahiku. Cliff yang aku kenal menyayangiku sebagai adik perempuannya. Bukan sebagai kekasihnya. 
Perkataan Ayah kembali terngiang di benakku.
'Cliff sendiri yang telah melamarmu, dia yang ingin menikahi mu. kebersamaan kalian sejak kecil ternyata telah membuat dia jatuh cinta padamu. kamu harus mengerti Anna.'

3 bulan setelah hari itu. Pernikahan kami digelar. Aku berdandan cantik dengan balutan gaun putih. begitu juga dengan pria berjas dan setelan sewarna yang berdiri diujung sana. Sebuah jas yang seharusnya dikenakan oleh Hugo.
Hari itu aku benar-benar diperlakukan sebagai seorang permaisuri. Seorang permaisuri dari pangeran yang telah aku anggap kakak ku sendiri. 
Permaisuri dari pangeran yang aku sayangi karena sifatnya yang selalu menjagaku sebagai adiknya. Pangeran yang seharusnya menjadi lelaki yang nanti akan sering datang kerumah mengeluh meminjam uang. Pangeran yang seharusnya dapat memberiku seorang Ipar yang cantik. Bukan pangeran yang nantinya akan satu ranjang denganku. Bukan pangeran yang aku cintai sebagai seorang kekasih.

Jika saat ini aku tidak membiarkan diri ku menangis sekeras-kerasnya, maka ini hanya untuk menjaga perasaan Ibu dan Ayah, juga perasaan Cliff yang ternyata mencintaiku melebihi dari rasa cintanya kepada saudara sendiri, setidaknya begitu yang Ayah ucapkan.


Cliff
Tidak terasa pernikahan kami telah berjalan beberapa tahun. Bukan waktu yang lama bagiku untuk mempercayai ucapan Ayah dulu. Ucapan yang mengatakan bahwa Anna lah yang memintaku untuk menikahinya.
Aku tidak berani menanyakannya langsung pada Anna, takut ia tersinggung. Yang harus aku lakukan sekarang adalah mencoba mencintainya sebagai istri, bukan lagi sebagai adik perempuan yang dulu sering aku gendong di pundak seusai bermain.
Berusaha membuat diriku agar terlihat juga mencintainya, berusaha membuat diriku terlihat tidak menyesalkankan pernikahan ku dengannya. Awalnya hal itu bukanlah sesuatu yang terlalu sulit. Sampai suatu ketika sepasang pengantin baru pindah ke sebelah rumah kami.
Pernikahan ku dan pernikahan pengantin baru itu hanya terpaut 1 tahun, jadi aku rasa mereka akan seumuran denganku dan Anna. Sehari setelah pindahan itu, aku memutuskan untuk mengajak Anna menemui tetangga baru kami tersebut. Sekedar bersilaturahmi pikirku. Akan lebih bagus jika hubungan kami bisa seharmonis hubungan keluargaku dengan keluarga Anna dulu.

Awalnya semua berjalan dengan sangat baik. Pintu di buka setelah kami memencet beberapa kali. Yang membukakan pintu adalah seorang Pria dengan perawakan kecil, berambut ikal, dan berkulit putih. Pria itu dengan ramah mempersilahkan kami masuk. Sebuah jabat tangan erat aku berikan kepada pria yang kemudian aku ketahui adalah sang suami dari penganten baru itu. Anna masih terlihat kaku dan gugup, ia hanya menyalami pria itu sebentar, lalu melepaskannya lagi. menoleh pun ia tidak mau.
'Dia memang sedikit pemalu' ujarku berlelucon. Pria itu membalas dengan senyum kecil yang agak dipaksakan.

Tidak berapa lama mengobrol, sang istri pun keluar. Wanita dengan wujud cantik, tubuh ramping, dan rambut ikal sebahu. Sebuah wajah, tubuh, dan rambut yang sangat aku kenal. Wanita itu Luvia. Pengatin baru itu Luvia.

Hari-hari berikutnya aku berusaha mencuri-curi waktu untuk menemui Luvia, hanya aku dan Luvia. tanpa Anna dan suami Luvia. Aku hanya ingin meminta kejelasannya. sekaligus meminta maaf karena dulu aku sempat meninggalkannya.
Luvia bercerita bahwa dulu ia sangat merasa kehilangan. di malam pernikahanku ia menghabiskan beberapa botol wine hanya agar dapat sedikit terbebas dari depresi. Luvia mengaku sangat mencintai ku. malam itu tanpa sengaja ia bertemu dengan pria yang menjadi suami nya saat ini. Seorang pria yang juga tengah mengalami depresi. Pria yang mengaku tidak pernah mabuk sebelumnya.
Semua hal dari pria itu mengingatkan Juvia pada sosok ku. Adalah suatu kebetulan kalau akhirnya Luvia dan pria itu saling jatuh cinta, kemudian memutuskan untuk menikah.

Mendengar cerita itu, aku sempat terdiam sejenak. Sampai ketika Luvia bertanya.

'jika seandainya dulu kau menikahi aku, akan sebahagia apa kita, Cliff?' Sebuah pertanyaan yang benar-benar menusuk ulu hati ku. Aku seperti teriris. Padangan Luvia tidak pernah lepas dari mataku. Lagi-lagi, kami tidak bisa mengendalikan diri. sekali lagi, untuk terakhir kalinya, pada hari itu kami berciuman. Sebagai sepasang manusia yang dulu pernah saling mencintai.

Aku dan Luvia memustuskan untuk merahasiakan hal ini dari suaminya dan Anna. Kami berdua telah bahagia dengan kehidupan masing-masing. Semua hal berjalan seperti biasa hingga kami tua. hanya sesekali aku dan Luvia sering beradu pandang, kemudian aku melihat ada sedikit air mata yang mengalir dari mata Luvia.

Anna
Aku mulai memaksakan diriku untuk menerima bahwa aku telah menikahi Cliff. Bukan hal yang sulit memang, terlebih semua perlakuan Cliff benar-benar membuat aku merasa bahwa dia memang mencintaiku.
Rumah tangga kami adalah rumah tangga yang harmonis. Perbedaan dulu mulai menghilang seiring semakin dewasa nya kami. Begitu juga dengan kenanganku tentang pahit dimasa lalu.

Yang kemudian kembali terbuka saat kami kedatangan tetangga baru. Pasangan suami istri. Aku dengar dari Cliff, jarak pernikahan mereka dengan kami hanya 1 tahun. Awalnya khayalan-khayalan tentang tetangga baru yang bisa aku ajak bercerita tentang bagaimana repotnya mengurus anak dan rumah tangga, khayalan tentang bagaimana aku akan mengobrol sepanjang hari sambil mencoba resep-resep baru yang akan kami sajikan untuk suami kami nanti, muncul menggebu-gebu.
Aku tidak menyangka bahwa yang muncul hanyalah masa lalu yang membuat aku semakin terpuruk. Pria yang menjadi suami dari wanita itu adalah Hugo. Ya, Hugo. Orang yang dulu sangat aku cintai.

Aku mengenalinya saat Cliff mengajakku untuk bertamu. Lelaki yang membukakan pintu adalah lelaki dengan wajah lugu yang dihiasi kacamata dengan bingkai hitam, tubuh kurus, serta rambut ikal. Sebuah wajah, tubuh, dan rambut yang tidak asing lagi bagiku.
Aku sedikit gemetar ketika menyalaminya, berusaha menahan tangis dan kesedihan yang sudah aku pendam rapat-rapat. Aku tidak ingin air mataku bercucuran saat itu, aku tidak ingin Cliff menjadi bertanya-tanya.
Aku lihat Hugo juga gugup ketika menyalamiku. Saat ngobrol pun ia jarang menatap mata. Pandangannya terfokus kepada Cliff, sambil sesekali menunduk.
Rasa gugupnya semakin besar ketika istrinya keluar, seorang wanita yang tampak sangat tidak cocok sama sekali dengan Hugo.
'kenapa Hugo menikahi wanita jalang seperti ini? lihat dandanannya.' ujarku dalam hati. Seperti nya hal itu pula yang membuat Hugo bertambah gugup. Tapi kali ini Cliff juga terlihat agak gelisah. Dasar lelaki, dia pasti tertarik dengan kemolekan wanita ini. Aku mendengus tanda tidak suka. Dan sepertinya Cliff sadar akan hal itu. buru-buru dia mengajakku untuk pamit pulang.
Syukurlah, akhirnya aku bisa meluapkan segala emosi yang aku pendam sedari tadi. Hari itu, lagi-lagi aku menangis sendirian dikamar.

Beberapa hari kemudian aku memutuskan untuk menemui Hugo. Aku ingin meminta maaf, juga untuk bertanya alasan mengapa ia mau menikahi wanita seperti itu. Aku mungkin akan lebih terima jika yang ia nikahi adalah wanita terpelajar, dan sopan. Tapi ini... huh!

Pertemuan ku dengan Hugo yang sudah aku rencanakan ini diisi oleh tangisanku. Aku benar-benar tidak bisa menahan kuasa. Aku membiarkan Hugo memeluk tubuhku. Saat itu, yang aku pikirkan hanya perasaanku dan Hugo. Terlebih setelah mendengar cerita bahwa pada malam pernikahan ku dengan Cliff, Hugo merasa sangat sedih dan tertekan. Ia kalut dan kemudian memutuskan untuk pergi ke sebuah club malam. Entah setan apa yang membujuknya untuk memesan beberapa botol wine. Ia mungkin tidak akan berhenti minum jika ia tidak bertemu dengan wanita yang menjadi istrinya saat ini. Wanita yang saat itu juga bernasib sama dengan Hugo. Ia ditinggal pergi oleh kekasihnya.
Sedikit aku mulai merasakan respek pada wanita itu. Ternyata dibalik penampilannya yang agak nakal, dia mempunyai masa lalu yang buruk. Aku hanya berharap agar Hugo dan wanita yang kemudian aku ketahui bernama Luvia itu dapat bahagia dengan pernikahan mereka. Pun dengan aku dan Cliff. Sekarang kami hanya harus mengikuti bagaimana takdir kami akan berjalan. Aku dan Hugo sepakat untuk merahasiakan cerita ini.

Pertemuanku dengan Hugo saat itu aku akhiri dengan sebuah ciuman lembut dibibir Hugo. Sebuah ciuman penuh cinta yang rasanya belum pernah aku berikan kepada Cliff. Jujur saja, aku masih sangat mencintai Hugo, seperti aku mencintai Cliff. Bahkan sampai saat kami telah mulai tua. 



Cliff
Pohon pinus yang tumbuh tepat di depan rumah kami mulai tua dan rapuh. Aku ingat betul bagaimana rindangnya pohon itu menjadi tempat favorit ku dan Anna ketika bersantai. Aku membuat sebuah ayunan kecil yang aku ikatkan pada dahan pohon yang agak besar.
Kini ayunan itu sudah tidak lagi mampu menopang tubuh kami, semua rentan dimakan usia. Seperti hal nya kami berdua. Aku bukan lagi pria gagah yang kapan saja bisa menggendong tubuh Anna kemana pun ia mau. Aku bukan lagi Cliff yang mempunyai pundak kuat tempat dimana dulu Anna kecil sering terlelap saat lelah bermain.

Anna apalagi, tubuhnya sudah mulai sakit-sakitan. Sudah sewajarnya memang. Yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa kami sama sekali tidak mempunyai orang lain yang akan merawat dan menjaga kami. Dokter memvonis kami tidak akan mempunyai anak. Salah satu diantara kami menderita kelainan yang menyebabkan Anna tidak bisa hamil. Kami tidak tahu pada siapa letak kelainan itu. Aku dan Anna sengaja meminta dokter untuk merahasiakannya. Takut salah seorang diantara kami akan merasa sangat bersalah.

Pada suatu malam angin bertiup sangat kencang. Pohon Pinus besar itu kemudian roboh dan hampir menimpa rumah kami. Saat itu listrik juga padam. Rumah kami menjadi satu-satunya tempat yang tidak bercahaya. Cahaya kami telah hilang. Ya, benar-benar hilang...

Anna
Semangat kami ternyata benar-benar hilang dimakan usia. Aku merasa bersalah karena aku tidak dapat memenuhi janji ku kepada Cliff. Janji untuk selalu menyiapkan sarapan yang lezat untuk Cliff. Kenyataannya, kini aku hanya seorang wanita renta yang hari-harinya harus dihabiskan di pembaringan dengan berselimut tebal. Satu-satunya yang membuat aku bertahan adalah bahwa Cliff selalu mencoba tersenyum dan mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja.

Setiap malamnya, sebelum kami terlelap dalam tidur. Cliff selalu membelai rambutku yang memutih. Kemudian membisikkan kata-kata yang akan selalu membuatku bisa bermimpi indah di umur ku yang tidak lagi muda ini. "Aku mencintaimu seperti dulu, aku tidak akan sanggup kehilanganmu. Jadi tetaplah disini bersamaku". Kalimat yang terus ia ucapkan berulang-ulang tanpa bosan.

Sampai pada suatu malam aku tidak dapat lagi mendengar kata-kata itu. Badai yang terjadi diluar seolah ikut membawa pandanganku. Ditambah listrik yang padam, membuat aku hanya bisa meraba wajah Cliff yang keriput. Perlahan semua seperti senyap. Sayup-sayup aku mendengar Cliff berteriak.
'Anna, bertahanlah! Anna.'

'Anna, aku akan memanggil ambulans, jadi aku mohon kau harus bertahan..'

'Anna, tetap buka matamu Anna!'

'Anna..... Anna....'

Maafkan aku Cliff. Aku sepertinya telah mencapai akhir dari kekuatanku. Aku mungkin tidak akan dapat lagi menyentuhmu. Merasakan hangatnya dekapanmu. Tapi seperti yang kau pinta, aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan selalu mencintaimu. Aku menyayangimu.. Cliff.




Cliff
2 Bulan setelah kematian Anna, aku memutuskan untuk pindah ke sebuah kota kecil jauh dari kota tempat ku hidup dengan Anna. Teman ku bilang, itu kota yang bagus untuk menghabiskan hari tua.
Bukan hal yang sepele memang saat aku kehilangan orang yang benar-benar aku cintai. Orang-Orang di sekitar ku pun mungkin akan membenarkannya. Aku berubah menjadi sosok yang pemurung dan tertutup. Mereka yang mengkhawatirkan aku seringkali mampir untuk menjenguk dan bertanya kabar.

Bahkan setelah kepindahan ku, beberapa dari mereka acap kali mengirimi ku email. Bertanya kesibukan dan kegiatan ku ditempat baru ini. Seperti Email-email lainnya, aku hanya membalas dengan kalimat-kalimat singkat yang mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Sungguh, aku tidak ingin membuat mereka khawatir.

'halo, aku disini baik-baik saja. aku menghabiskan hari ku dengan minum kopi dan bermain catur dengan tetangga baruku. Malam nya jika cuaca tidak dingin, aku pergi keluar untuk bercengkrama dengan beberapa teman. Aku benar-benar telah jauh lebih baik'

balasan email yang selalu aku siapkan untuk menjawab kegelisahan teman-teman lama ku.
Dan seperti yang aku tulis, aku disini memang baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik. Ya, jauh lebih baik..



'halo om, mau kencan sama aku?'

'ah maaf manis, saya ada janji dengan wanita seksi di ujung sana. tapi kalau kamu memaksa, besok malam saya free kok'

'hihi apa om kuat ngelawan kami berdua?'

'jangankan berdua, berlima pun om ladeni, aarrrwww...'


T A M A T

5 komentar:

RYNEM mengatakan...

tulisannya keren , salam kenal brow ... aku follow blog kamu

To-tallyshit mengatakan...

wah makasih, salam kenal

AuL Howler mengatakan...

WAW.
Terhanyut.

*ngulang bc lagi*

To-tallyshit mengatakan...

nantikan kelanjutannya :D

Audrey Subrata mengatakan...

ini karangannya keren, gua sampe serius banget bacanya padahal adek gua minta gantian pake PC huhu. ditunggu lagi cerita lanjutannya.

Posting Komentar

 
;