Minggu, 28 Oktober 2012 0 komentar

Seperti Facebook

Kira-kira udah hampir 15 tahunan saya nggak buka Facebook. sekalinya buka lagi, temen-temen Facebook saya udah pada beranak.
Bukan apa-apa. memang udah lumayan lama saya nggak nengok sosial media yang satu itu. Padahal, dulu bisa dibilang saya adalah orang yang kecanduan sama jejaring sosial kepunyaan Mark Zuckerberg ini.









Di Facebook ini saya bisa tau semua informasi tentang lingkungan saya, disana saya bisa komunikasi lagi sama temen-temen lama yang udah kepisah jauh. Dan disana saya bisa kenalan sama adek-adek unyu yang suka bikin status galau buat dikomenin :')

Tapi semua berubah saat Negara Api mengerang. Erangan dari Negara Api ini mungkin yang membuat Jack Dorsey kepikiran untuk menciptakan jejaring sosial baru bernama Twitter. Ribuan orang mulai berbondong-bondong pindah dari Facebook ke Twitter. Bisa dibilang saat itu orang yang punya akun twitter kadar ke-gaul-annya setingkat sama mas-mas pemilik iPhone 5 with Gold-Era Cases Limited Edition. Gaul.

Padahal kalo diliat, fitur nya Twitter itu nggak ada apa-apanya dibanding Facebook. Di Twitter kita nggak bisa bikin album foto. Di twitter kita nggak bisa main game. dan di twitter kita nggak bisa ngirim LikE StaTuz aQ eaa qaqa ke temen-temen.

Saya pribadi, hal yang membuat saya rela meninggalkan Facebook adalah justru karena kesederhanaan Twitter itu sendiri. Sistem yang mengatur privasi dan tata penggunaan situs kicauan ini benar-benar membuat saya nyaman. Secanggih apapun Facebook, kalau orang ngerasa risih dan nggak comfort, ya bakal ditinggalin juga.

Mungkin sama ama manusia. Kita sibuk berpacu agar menjadi yang lebih baik. Kita sibuk mengkoreksi dan mencari kesalahan diri sendiri. Mulai termakan sikap individualis dan melupakan bahwa yang harus kita prioritaskan adalah kenyamanan sekitar.


"Toh selama kita bisa bikin orang-orang ngerasa nyaman, menjadi yang terbaik hanyalah 'Bonus'."


*Sumber gambar : google
Senin, 15 Oktober 2012 2 komentar

Un-Straight

Stalking sepertinya telah menjadi salah satu kebutuhan saya. Bukan menjadi rahasia lagi kalau kegiatan mengintip diam-diam ini acap kali menjadi pengisi sore. Suatu hari, kegiatan stalking ini membawa saya kepada sebuah account twitter dengan username @AreaMaho. Rasa penasaran saya terpanggil untuk menggeledah lebih dalam lagi akun yang dari namanya saja sudah lumayan nyeleneh saya rasa.

Menyadarkan saya bahwa dari setiap kegelisahan kita memaknai cinta, ada segelintir orang yang menepi untuk memilih jalannya sendiri.

===============

Kami menamai diri kami anugrah. Anugrah karena kami berani berpetualang pada sebuah sesi dimana sebagian orang merasa jijik, geli, risih, dan sebagainya.
Kami menganggap diri kami kuat. Kuat karena kami berhasil bertahan menghadapi lecutan keras tentang genderisasi yang masih buta.

Homoseksual bukan jalan yang salah untuk mencapai bahagia. Karena dari setiap jalur menuju itu, selalu ada liku yang kemudian membawa kami untuk memilih jalur baru. Sebuah kehidupan yang saat ini kami jalani.

Bukan apa-apa. Menjadi "kami" bukanlah sebuah keputusan yang mudah.
sebelumnya, kami memang harus meyakini bahwa hidup bukan untuk dicoba-coba.
Ada yang begini karena memang sudah bawaan dari lahir. ada juga yang faktor lingkungan.
Tidak perlu kami jelaskan lagi, kadang rasa sakit penyebabnya.
Ada kecewa yang mendalam ketika kami seperti kalian. Yang kemudian coba kami lupakan bersama teman-teman kami. Bukan salah kami kalau nantinya muncul kenyamanan. Kenyamanan yang tumbuh dari satu rasa dan satu keyakinan. keyakinan bahwa kami telah salah memulai jalan.
Kebersamaan yang kami namai 'Persahabatan'. Persahabatan yang membawa kami kepada sebuah ikatan. menjadi sepasang kekasih.

Toh kami merasa dengan begini kami akan lebih menjadi diri sendiri.
keyakinan kami membenarkan bahwa :
Gay adalah kondisi dimana cinta menjadi sempurna.

Keadaan minoritas membuat kami ingin selalu setia, karena memang akan sulit untuk mendapatkan pengganti.
Berbeda dengan mereka yang normal. sebuah masalah kecil bahkan bisa mengakhiri suatu hubungan. karena memang akan ada banyak pengganti. Wanita/Pria datang silih berganti. Tidak dengan kami.

Menjadi Gay itu seperti memacari dua orang sekaligus. disatu sisi kami mendapat maskulinnya seorang pria. disisi lain, kami bisa merasakan gairah feminim seorang wanita. Bukan.. Bukannya kami banci. Kami hanya bisa menempatkan diri. Untuk menjadi posisi pengganti dari suatu "kenormalan".

Kesamaan membuat kami semakin terbuka. Kesamaan membuat kami benar-benar mengerti. Lucu ketika lawan jenis kami mengatakan bahwa mereka mengerti kondisi kami. Toh dari kelamin saja sudah beda, posisi saja sudah beda.

Ketika bahagia, "ladies first".
Ketika sedih, "kamu kan cowok, tanggung jawab!"
Dengan menjadi kami, tidak ada lagi kalimat seperti itu. Bahagia dan sedih kami lalui berdua.

bukankah itu yang kalian sebut kesempurnaan suatu hubungan?




*dikutip dari perbincangan dengan teman yang seorang "un-straight".

===============

Sedikit membuat saya terperanjat. Aktifitas saya mungkin membuat saya selalu dan selalu bertemu dengan orang-orang yang mengeluh dengan kenormalan mereka. Sementara diluar sana, teman-teman kita bertahan dalam kondisi dimana mereka jelas-jelas berbeda.

Bukan hanya tentang homoseksual. Ada pasangan yang menderita karena persamaan mereka. Ada lagi yang menderita malah karena perbedaan. Perbedaan keyakinan misalnya. Lalu kenapa kita harus mengeluh habis-habisan disaat yang menghambat kita hanyalah sebuah keegoisan? Kenapa kita harus bersedih disaat satu-satunya yang membuat kita terluka hanyalah kekanak-kanakkan?

Saya tidak membenarkan mereka. Lagipula saya mempunyai agama dan agama saya jelas-jelas menentang hal yang seperti itu. Namun, saya juga tidak menyalahkan. Karena memang mereka tidak merugikan orang lain. Apakah mencari kebahagiaan bisa dianggap sebagai suatu kesalahan?

Yang mengejutkan adalah ketika saya bertanya "apa kalian tidak ingin berubah?".
dengan antusias mereka menjawab "Ya".
"hanya saja sangat sulit merubah self culture pada diri kami. itu seperti kamu yang biasanya bekerja pada siang hari dan tidur pada malamnya. Lalu berubah menjadi bekerja pada saat malam, dan tidur di siang hari. Bukan suatu yang mustahil. tapi sangat sulit"

Saya sadar yang membedakan kita dengan mereka hanyalah takdir dan keadaan. Percayalah, tidak ada orang yang ingin dilahirkan seperti itu.


Kenapa Tuhan menciptakan sistem yang begitu rumit?
Karena Tuhan yakin manusia sangat luar biasa. *tebar paku*
Sabtu, 06 Oktober 2012 11 komentar

Cerpen

Saya bukan orang yang hobi bikin cerpen juga sih sebenernya. Apalagi cerpen pertama saya yang berjudul "To Remembering Our Fate" banyak mendapat kecaman karena endingnya yang terlalu dahsyat. Tapi.. naluri cerpenis saya kembali dikoyak tatkala saya melihat kontes membuat cerpen yang diadakan salah satu website belanja online ternama.
Pengen ikut sih, tapi takut malu-maluin. Akhirnya dengan tekad yang keras, saya memilih untuk latihan membuat cerpen dulu saja.
So, cek dis owt!

=============================

Judul : Salah

Di sebuah kota hiduplah Budi, Dewi, dan Ani. Ani adalah teman baik Dewi. Ani dan Dewi sering curhat-curhatan. Budi juga teman Ani. Budi naksir sama si Dewi. Tapi Budi gengsi nyatain perasaan. Akhirnya Budi ngedeketin Ani. Dengan bermodalkan rasa kepo dan bakat stalking, Budi pun mengorek informasi dari Ani. Ani awalnya mencoba untuk tidak ember. Tapi Budi sangat pintar memainkan kata-kata. Akhirnya Ani keceplosan.

'jadi si Dewi itu lagi deket sama si Andi.' kata Ani.

'Andi? Andi anak akuntansi itu?' Tanya Budi.

'iya, yang entu. Mereka saling jatuh cinta kayaknya' kata Ani.

Hati Budi hancur berkeping-keping. Budi pulang dengan depresi yang luar biasa. Makan tak nikmat, tidur pun tak nyenyak. Akhirnya karena merasa tidak punya harapan lagi, si Budi pun menjauh dari Dewi. si Dewi yang merasa sifat Budi berubah, akhirnya bertanya kepada Ani.
Dengan sangat menyesal Ani pun menceritakan semua nya kepada Dewi. Dewi pun tiba-tiba menangis.

'Ni, jujur selama ini gue bohong sama lo Ni.' Kata Dewi.

'Bohong maksud lo? Tanya Ani.

'Gue nggak ada rasa apa-apa sama Andi. Gue itu sayang sama Budi, gue cinta sama Budi. Selama ini gue pura-pura sayang sama Andi di depan semua orang. Gue ngerahasia'in ini semua karena gue belum siap buat ngasih tau lo. Gue.. Gue bener-bener sayang sama Budi.' Kata Dewi.

Tapi apalah daya. Nasi sudah jadi Super Bubur. Budi yang lugu telah memilih untuk melupakan Dewi selamanya. TAMAT.

==============================

Pelajaran yang dapat diambil dari cerpen diatas :
  1. Gosok lah gigi sebelum tidur.
  2. Baca doa sebelum makan.
  3. Jangan terlalu kepo.
  4. Jangan pernah bohongi perasaan sendiri.
 Sumber : Google





Wohoooo Amigos!
Jumat, 05 Oktober 2012 7 komentar

Saya Takut Perubahan

"Kita hidup di dunia dimana mengucapkan cinta jauh lebih gampang daripada membuktikannya"

Emang gitu, akhir-akhir ini banyak banget orang yang dengan gampangnya ngungkapin rasa sayang dan cinta ke orang lain. Mau itu temen, pacar, bahkan yang nggak dikenal sekalipun.

beberapa hari yang lalu, saya lagi asik ngamatin Timeline Twitter, saya kaget ngeliat ada cowok ngungkapin kalau dia sangat mencintai teman lawan jenisnya. Saya sih tau itu cuma buat becandaan. Yang ngebikin saya terperanjat sambil ketawa-ketawa sendiri adalah bahwa saya pun sering ngelakuin hal yang sama. Dengan mudahnya saya bilang ke temen saya bahwa saya menyayangi dan mencintai dia, seolah nyepele'in apa arti dari kata itu sendiri.

jauh banget sama saya SD dulu mah. Dulu aja, duduk atau berdiri deket cewek aja udah di'cieeee'in temen sekelas. Apalagi buat akrab. Jangankan ngobrol, nyapa aja, si ceweknya udah kegeeran duluan. iya ribet emang. kalau diigosipin suka ama cewek, bakal panik setengah mampus dan mati-matian buat bilang enggak.

Misalnya nih ya. Saya digosipin suka sama cewek dikelas. Sebut saja namanya Bunga.

 ( Dulu )
Teman : Gi, kamu suka ama Bunga ya? cieee cieeeee...
Saya : ENGGGAAK!
Teman : ciee yang lagi deket ama Bunga, sering bikin tugas bareng pasti.
Saya : ENGGAAAK!
Teman : yaudahsih nggak perlu teriak-teriak juga kali.
Saya : ENGGAAAAK!
Teman : .....

Nah kalau sekarang mah, digosipin malah makin menjadi-jadi.

 ( Sekarang )
Teman : denger-denger lagi deket sama si Bunga ya, Gi?
Saya : deket apaan? udah jadian kaleeee
Teman : jangan nyari-nyari cewek gitu, ntar si Bunga cemburu loh.
Saya : bakal setia kok sama si Bunga.
Teman : Nyari bunga hias di Padang dimana ya?
Saya : si Bunga ada nih di hati gue
Teman : ...

Aahh that was so different. Kadang ya saya suka rindu sama zaman-zaman dimana cowok-cowok pada ngumpul disini, trus cewek-cewek ngumpul disana. trus ada salah satu cowok yang mau jalan ke tempat cewek ngumpul. trus di cieeeee'in bareng. trus si cowok itu lari kalang kabut. trus kami bahagia selamanya.

Hal-hal yang kayak gitu yang membuat saya menyadari bahwa semua berubah seiring berjalannya waktu. Dulu saya kemana-mana masih suka pakai jam Power Ranger yang ada lampu-lampu nya. Dulu inbox handphone cuma di penuhi sama sms dari bokap dan nyokap. Dan dulu saya masih suka nyisir rambut.

Nggak hanya perubahan *intern, lingkungan pun ikut berubah. Sayangnya perubahan pada lingkungan seringkali memberi kesan kehilangan. Hal-hal yang berubah cenderung memaksa kita untuk menerima hal-hal baru. Membuat kita terpaksa melupakan sesuatu yang udah comfort banget sama kita.
Sebuah siklus kehidupan. Perubahan membawa pergi orang-orang lama, dan mendatangkan orang-orang baru.

Dulu, kalau dirumah saya mainnya sama si Novri, Dharma, dan Djamal. Seiring berjalannya waktu, kami mulai sibuk sama kegiatan masing-masing, beberapa bahkan ada yang pergi jauh. Saya sempat merasa kehilangan. tapi cuma sebentar. Tidak berapa lama, datang orang-orang baru, Reno, Gaban. Misty, dll.

Pun di lingkungan yang lain. Semasa SMA, kemana-mana saya selalu bareng Amaik, Berri, Randa, Adink, Pojan, Tonyet, Pram, Dll. Waktu berubah, lingkungan berubah. Kami semua dipaksa berpisah. Dipaksa menuju ke tempat yang lebih tinggi. Jenjang perkuliahan. Saya jadi nggak bisa ketemu nereka lagi. Kemudian perubahan mendatangkan Haady, Jasman, Buyuik, Isaik, Arief, Boni, Harland, Rayza, Dll.

Dikampus juga. Dulu kalau ke sekre sering ketemu Bang Angin, Bang Pane, dan Abang dan Kakak yang lain. Mereka wisuda. Mereka pergi. Lalu datang orang-orang baru. Mahasiswa baru. Fandi, Dedi, Wanda, Orien, Vella, Shinta, Tiwi, dan banyak yang lainnya. Kedatangan mereka seolah menggantikan posisi orang-orang yang pergi.

Perubahan ini bakal berasa banget efeknya kalau udah nyangkut sama yang namanya cinta #eaaa. Kalau yang dulunya pagi-pagi ada orang yang bilang selamat pagi, sekarang yang ngucapin selamat pagi cuma pembaca berita di TV, kadang-kadang Mamah Dedeh. Kalau dulu ada orang tempat cerita-cerita, sekarang cerita ama twitter. Miris. Banget.
Tapi ya seperti yang saya bilang. Ada orang yang pergi, ada orang yang datang. Ada pacar yang pergi, ada pacar yang datang. Yang ngebedain cuma waktu nya aja.

"Orang-orang lama pergi sangat cepat, orang baru datang di waktu yang tepat."





Boleh sedih karena ditinggal pacar, boleh showeran karena galau abis diputusin. Tapi toh nanti bakal jatuh cinta lagi. Bakal jadian lagi. Nggak selamanya kita akan tetap disini. Saya mahasiswa Akuntansi Unand, nggak selamanya saya akan berada di kampus ini, nggak selamanya saya akan bergaul dengan cewek-cewek akuntansi nan cantik dan rupawan. Nantinya, kita akan pergi ke tempat masing-masing, siap nggak siap. Kita akan ketemu orang-orang baru. Ditempat kerja. dilingkungan tempat tinggal. Semua orang baru. Lalu perlahan kita akan mulai lupa dengan masa lalu. Perlahan kita akan mulai terbiasa dengan lingkungan baru *Tebar Paku*

 
Karena itulah mengapa saya sangat mencintai detail dan kenangan. Saya takut perubahan. Saya... takut dilupakan.


NB : *intern = lawannya milarn

 
;