Senin, 15 Oktober 2012

Un-Straight

Stalking sepertinya telah menjadi salah satu kebutuhan saya. Bukan menjadi rahasia lagi kalau kegiatan mengintip diam-diam ini acap kali menjadi pengisi sore. Suatu hari, kegiatan stalking ini membawa saya kepada sebuah account twitter dengan username @AreaMaho. Rasa penasaran saya terpanggil untuk menggeledah lebih dalam lagi akun yang dari namanya saja sudah lumayan nyeleneh saya rasa.

Menyadarkan saya bahwa dari setiap kegelisahan kita memaknai cinta, ada segelintir orang yang menepi untuk memilih jalannya sendiri.

===============

Kami menamai diri kami anugrah. Anugrah karena kami berani berpetualang pada sebuah sesi dimana sebagian orang merasa jijik, geli, risih, dan sebagainya.
Kami menganggap diri kami kuat. Kuat karena kami berhasil bertahan menghadapi lecutan keras tentang genderisasi yang masih buta.

Homoseksual bukan jalan yang salah untuk mencapai bahagia. Karena dari setiap jalur menuju itu, selalu ada liku yang kemudian membawa kami untuk memilih jalur baru. Sebuah kehidupan yang saat ini kami jalani.

Bukan apa-apa. Menjadi "kami" bukanlah sebuah keputusan yang mudah.
sebelumnya, kami memang harus meyakini bahwa hidup bukan untuk dicoba-coba.
Ada yang begini karena memang sudah bawaan dari lahir. ada juga yang faktor lingkungan.
Tidak perlu kami jelaskan lagi, kadang rasa sakit penyebabnya.
Ada kecewa yang mendalam ketika kami seperti kalian. Yang kemudian coba kami lupakan bersama teman-teman kami. Bukan salah kami kalau nantinya muncul kenyamanan. Kenyamanan yang tumbuh dari satu rasa dan satu keyakinan. keyakinan bahwa kami telah salah memulai jalan.
Kebersamaan yang kami namai 'Persahabatan'. Persahabatan yang membawa kami kepada sebuah ikatan. menjadi sepasang kekasih.

Toh kami merasa dengan begini kami akan lebih menjadi diri sendiri.
keyakinan kami membenarkan bahwa :
Gay adalah kondisi dimana cinta menjadi sempurna.

Keadaan minoritas membuat kami ingin selalu setia, karena memang akan sulit untuk mendapatkan pengganti.
Berbeda dengan mereka yang normal. sebuah masalah kecil bahkan bisa mengakhiri suatu hubungan. karena memang akan ada banyak pengganti. Wanita/Pria datang silih berganti. Tidak dengan kami.

Menjadi Gay itu seperti memacari dua orang sekaligus. disatu sisi kami mendapat maskulinnya seorang pria. disisi lain, kami bisa merasakan gairah feminim seorang wanita. Bukan.. Bukannya kami banci. Kami hanya bisa menempatkan diri. Untuk menjadi posisi pengganti dari suatu "kenormalan".

Kesamaan membuat kami semakin terbuka. Kesamaan membuat kami benar-benar mengerti. Lucu ketika lawan jenis kami mengatakan bahwa mereka mengerti kondisi kami. Toh dari kelamin saja sudah beda, posisi saja sudah beda.

Ketika bahagia, "ladies first".
Ketika sedih, "kamu kan cowok, tanggung jawab!"
Dengan menjadi kami, tidak ada lagi kalimat seperti itu. Bahagia dan sedih kami lalui berdua.

bukankah itu yang kalian sebut kesempurnaan suatu hubungan?




*dikutip dari perbincangan dengan teman yang seorang "un-straight".

===============

Sedikit membuat saya terperanjat. Aktifitas saya mungkin membuat saya selalu dan selalu bertemu dengan orang-orang yang mengeluh dengan kenormalan mereka. Sementara diluar sana, teman-teman kita bertahan dalam kondisi dimana mereka jelas-jelas berbeda.

Bukan hanya tentang homoseksual. Ada pasangan yang menderita karena persamaan mereka. Ada lagi yang menderita malah karena perbedaan. Perbedaan keyakinan misalnya. Lalu kenapa kita harus mengeluh habis-habisan disaat yang menghambat kita hanyalah sebuah keegoisan? Kenapa kita harus bersedih disaat satu-satunya yang membuat kita terluka hanyalah kekanak-kanakkan?

Saya tidak membenarkan mereka. Lagipula saya mempunyai agama dan agama saya jelas-jelas menentang hal yang seperti itu. Namun, saya juga tidak menyalahkan. Karena memang mereka tidak merugikan orang lain. Apakah mencari kebahagiaan bisa dianggap sebagai suatu kesalahan?

Yang mengejutkan adalah ketika saya bertanya "apa kalian tidak ingin berubah?".
dengan antusias mereka menjawab "Ya".
"hanya saja sangat sulit merubah self culture pada diri kami. itu seperti kamu yang biasanya bekerja pada siang hari dan tidur pada malamnya. Lalu berubah menjadi bekerja pada saat malam, dan tidur di siang hari. Bukan suatu yang mustahil. tapi sangat sulit"

Saya sadar yang membedakan kita dengan mereka hanyalah takdir dan keadaan. Percayalah, tidak ada orang yang ingin dilahirkan seperti itu.


Kenapa Tuhan menciptakan sistem yang begitu rumit?
Karena Tuhan yakin manusia sangat luar biasa. *tebar paku*

2 komentar:

RYNEM mengatakan...

wah ternyata kamu M#H# kah? hmmm

To-tallyshit mengatakan...

bukan saya bang T.T

Posting Komentar

 
;