Minggu, 07 Juni 2015 1 komentar

Kisah Langit, Bumi, dan Hujan

Pernakah kamu mendengar kisah tentang langit, bumi, dan hujan? Tahukah kamu, sejak berjuta tahun yang lalu, langit mencinta bumi. Percayalah, ia mencintai lebih keras dibanding siapapun yang kamu kenal.


Langit adalah pria berwawasan luas, kuasanya menjangkau seluruh bimasakti, ia gagah dan bersahaja ketika siang, teduh ketika pagi, dan manis ketika senja. Jika bintang dan bulan sedang terang, maka malamnya langit akan begitu romantis. Semenjak ia diciptakan Tuhan, langit tidak pernah berpikir akan patah hati.

Bumi adalah wanita pendiam dan pemalu, ia di didik untuk dikekang dalam rotasinya yang itu-itu saja. Ekspresinya dibatasi dalam jalur tak kasat mata yang mengelilingi matahari, membuatnya tak bisa bergaul dengan planet-planet lain. Memang diantara wanita lainnya, bumi adalah yang paling cantik. Parasnya menyejukan karena biru laut, kadang tenang karena hijaunya hutan. Kulitnya tidak memerah seperti mars, tubuhnya ramping, tidak segemuk jupiter, pun sikapnya tidak dingin seperti pluto. Sejak awal diciptakan Tuhan, bumi memang untuk dikagumi.

Suatu hari, langit jatuh cinta pada bumi. Ingin ia mendekati, namun sudah hakikatnya, sang pangeran akan buruk citranya jika ia mendekati gadis desa biasa. Pun sang gadis desa biasa, tidak pernah bermimpi dapat mendampingi pangeran, terlalu muluk pikirnya.
Malunya sang bumi, dan gengsinya sang langit lah, yang membuat langit dan bumi hanya saling menatap satu sama lain.

Langit yang tidak habis akal, kemudian menemui hujan. Hujan adalah pria sederhana, ia dibesarkan bersama sang langit. Walau dibesarkan dilingkungan yang sama, langit diajarkan cara jadi raja, hujan diajarkan untuk jadi prajurit.

Langit meminta kepada hujan untuk menyampaikan surat cintanya kepada bumi, ia pesankan beberapa tangkai bunga bernama pelangi, ia titipkan selimut lembut yang disebut awan agar sang bumi tidak kedinginan. Berulangkali hujan menjadi penghubung langit dan bumi, mengendap-endap agar tidak ketahuan Tuhan.

Sayangnya, selayaknya roman yang pernah ditulis manusia, cerita cinta tidak pernah cukup tentang dua hati. Hujan mulai jatuh cinta kepada bumi. Beberapa kali ia coba tepis perasaan itu demi sahabatnya langit, namun cintanya kepada bumi begitu besar. Sering ia hampiri bumi, berkedok membawa kabar dan pesan dari langit, dengan terpaksa menahan sakit, selalu ia serahkan awan dan pelangi yang seolah pemberian sang langit, hanya agar hujan dapat menatap bumi.
Langit yang kemudian mengetahui itu sangat murka kepada hujan. Ia penjarakan hujan dalam kemarau panjang, sesekali jika langit sedang lengah, hujan sembunyi-sembunyi turun ke bumi.
Namun langit tidak bodoh, kadang ada muncul rasa iba-nya, ia biarkan hujan menemui bumi sebentar. Jika terlalu lama, ia akan berteriak memanggil hujan sekeras-kerasnya, suaranya menjelma gemuruh, kesalnya menjadi kilat, cemburunya berwujud petir.

Sebenarnya langit dan hujan adalah pria baik. Langit tidak rela hujan memiliki bumi, ia yakin bumi akan tenggelam jika ia bersama hujan. Pun hujan tidak berpikir bumi akan bahagia jika bersama langit, bumi akan hancur, jika langit turun ke bumi.

Begitulah kisah antara langit, bumi, dan hujan. Orang-orang berpikir hujan menghubungkan langit dan bumi, mereka tidak tahu bahwa tidak satupun dari langit, bumi, dan hujan yang bahagia hatinya.

Maka, jika suatu saat kamu berada diatas bumi, dibawah langit, dan diantara hujan, pejamkan mata mu sejenak, karena saat itu kamu sedang menyaksikan kisah cinta paling tua di dunia.
 
;